tari perang dari maluku
Budaya Informasi

Tari Perang dari Maluku yang Syarat Akan Makna

May 13, 2019

Teptek – Tari Perang dari Maluku juga disebut dengan Cekalele. Ya, Indonesia memang dikenal dengan keanekaragamannya baik segi kultural, sosial hingga bentang alam yang ada di dalamnya. Dari keanekaragaman melahirkan budaya hingga tari-tarian daerah yang disajikan dengan apik.

Terdiri dari beragam provinsi yang tersebar dalam pulau-pulau dari sabang hingga merauke. Maluku, merupakan salah satu provinsi yang terdapat di Indonesia sama seperti provinsi lainnya provinsi ini juga memiliki beragam jenis kebudayaan yang dapat menjadi daya tarik serta nilai jual dalam mengisi ragam pesona Indonesia.

Untuk membuat Anda semakin mengagumi kultur budaya Indonesia dan lebih mengenal tentang tari perang dari Maluku, berikut ada beberapa informasi yang perlu Anda simak.

tari perang dari maluku

1. Makna

Mulanya tarian ini merupakan tarian perang. Tari perang dari Maluku ini sendiri memiliki makna keberanian dan sikap pantang menyerah dari para laki-laki Maluku. Tarian ini semula digunakan dalam upacara-upacara adat dan juga pesta adat. Tarian ini mengisahkan para laki-laki Maluku yang menghadapi peperangan saat sedang mencari nafkah untuk keluarga dengan cara mengarungi lautan.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, tari ini juga memiliki nama lain, yaitu Cakalele. Dimana makna cakalele sendiri berarti roh yang mengamuk. Fenomena yang terjadi saat tarian ini berlangsung kadang kala para penari kerasukan roh yang mengamuk ditandai dengan berteriak-teriak menyebutkan kata “aulele” secara berulang-ulang. Dimana makna kata aulele tersebut ialah banjir darah.

Bagi yang belum pernah melihat pertunjukan tari ini mungkin akan sedikit kaget dan merasa ngeri melihatnya. Tak perlu khawatir, karena adanya penari yang kerasukan ketika tampil adalah hal yang lumrah pada tarian ini.

2. Perlengkapan Penari

Selain dibawakan secara berpasangan oleh para penari, tari perang dari Maluku ini juga dilengkapi dengan berbagai perlengkapan menari yang menghiasi tubuh para penarinya. Selain sebagai pemberi nilai keindahan ternyata seluruh perlengkapan yang dipakai penari selama tarian berlangsung memiliki makna-makna tersendiri. Seperti pakaian warna merah yang digunakan penari laki-laki sebagai lambang keberanian serta sikap pantang menyerah.

Selain itu penari pria juga dilengkapi dengan penutup kepala (tualipa), selempang (salebutu), dan ikat pinggang (goronamabiliku). Perlengkapan lain yang juga digunakan penari laki-laki yaitu parang (semarang) dan juga prisai (salawaku). Parang sendiri digunakan sebagai lambang martabat masyarakat Maluku yang harus dijaga. Prisai (salawaku) digunakan sebagai pelindung saat berperang.

Berbeda dengan perlengkapan penari laki-laki yang membawakan kesan keberanian dan persiapan perang, perlengkapan menari para penari perempuan menggunakan pakaian adat  yang sederhana dan dilengkapi dengan sapu tangan (lenso). Selain pada busana dan perlengkapan yang digunakan selama tarian berlangsung pada tari perang dari Maluku ini juga harus memiliki komposisi penari sebanyak 30 orang yang berpasangan.

3. Pembagian Tarian Pada Masa Kini

Seiring berkembangnya zaman tentu membawa perubahan terhadap budaya juga begitupun dengan tari perang dari Maluku ini. Kini tari ini tidak hanya digunakan dalam upacara dan kegiatan-kegiatan adat saja namun sudah mulai diperkenalkan sebagai bentuk kebudayaan bahkan sebagai hiburan saat penerimaan tamu.

Tarian ini kini sudah terbagi menjadi beberapa jenis seperti cakalele penyambutan tamu, cakalele upacara adat, dan cakalele untuk berperang.

Demikianlah ulasan singkat mengenai Tari Perang yang berasal dari Maluku. Menjadi salah satu tari tradisional Indonesia, kita sebagai warga negara yang baik harus turut mengapreasiasi serta membantu melestarikan hasil budaya tanah air kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *